Jumat, 24 September 2010

Kisah Heroik Pasukan SILIWANGI

Hijrah Siliwangi
SILIWANGI HIJRAH KE JAWA TENGAH. Disaat perjuangan perlawanan terhadap Belanda di Jawa Barat sedang memuncak dan inisiatif ditangan kita, pihak Belanda sekali lagi memaksa diadakannya perundingan yang diselenggarakan diatas

          Kapal "Renville" yang sedang berlabuh di teluk Jakarta pada tanggal 17 Januari 1948. Isi perjanjian Renville itu antara lain adalah bahwa : Mengharuskan pasukan Siliwangi Hijrah ke Jawa Tengah ke daerah-daerah yang masih di kuasai oleh RI. Dipandang dari segi Politik, secara militer dan segi ekonomi sangat merugikan Republik Indonesia khususnya TNI.

          Dari segi politik persetujuan Renville tersebut berarti pengakuan RI secara "De Jure" atas kedaulatan Kerajaan Belanda atas tanah air kita. Sedangkan dipandang secara militer perjuangan itu berarti menyerahkan kantong-kantong gerilya kita yang tidak dapat direbut Belanda itu kepada pihak Belanda sehingga kita menjadi terkepung.


          Dipandang dari segi ekonomi persetujuan itu berarti kita menerima keadaan bahwa semua kota-kota besar, pusat-pusat produksi dan perdagangan keluar, telah berada pada tangan Belanda, ekonomi kita berada dalam keadaan terkepung, terblokade dan terjepit.
          Pada saat menjelang hijrah unsur-unsur pimpinan Divisi Siliwangi terdiri dari :
Panglima Divisi Kolonel A.H. Nasution, Kepala Staf Kolonel Hidayat, Komandan Brigade-I/Tirtayasa di Banten Letkol Dr. Arie Sudewo yang menggantikan Letkol Suganda Brata Manggala, Komandan Brigade-II/Suryakencana di Sukabumi Letkol A.E. Kawilarang. Komandan Brigade-III/Kiansantang di Purwakarta Letkol Sidik Brata Kusumah, Komandan Brigade-IV/Guntur di Bandung Selatan Letkol Daan Yahya. Komandan Brigade-V/Sunan Gunung Jati di Cirebon Letkol Abimanyu.
          Didalam melaksanakan perintah Hijrah dari pemerintah pusat tidak semua unsur jajaran Divisi Siliwangi digerakkan berhijrah. Misalnya Brigade-I/Tirtayasa tidak disertakan dalam gerakan hijrah, karena masih menguasai keadaan sepenuhnya. Demikian pula berbagai unsur badan perjuangan ada yang tinggal di Kampung halaman, akibat dari adanya perintah hijrah ini pasukan Siliwangi/Divisi Siliwangi kehilangan kesempatan untuk mencicipi kemenangan dalam menanggulangi agresi Militer Belanda yang pertama di Jawa Barat, tetapi juga menyebabkan Divisi Siliwangi tersebar dan harus terlempar dari kampung halamannya sendiri.
          Pada tanggal 22 Pebruari 1948, telah selesai dihijrahkan kurang lebih 29.000 prajurit Siliwangi meninggalkan kantong-kantong gerilya di Jawa Barat. Route perjalanan hijrah terbagi dua jalur yaitu melalui jalan darat dengan menggunakan kereta api dan melalui laut dengan kapal laut.
          Setelah hijrah, lalu datang perintah adanya rekonstruksi dan rasionalisasi untuk ketigakalinya bagi Siliwangi. Ini dirasakan berat bagi Siliwangi terutama bagi anggota yang tidak masuk dalam formasi sehingga harus berpisah dengan teman sejawat dan pimpinan yang dicintainya. Akibat kesedihan dan cobaan yang cukup berat melahirkan lagu yang kemudian menjadi Mars Siliwangi, yang terus dilantunkan selama hijrah. Lagu Mars Siliwangi ini bukanlah ciptaan satu orang tetapi hasil karya dari beberapa orang. Ide untuk menciptakan lagu ini datang dari Kapten Cecep Aryana (Perwira Staf Divisi Siliwangi) dan Letnan Sunar Pirngadi, ide tersebut muncul disaat berada di kapal MS Plancius yang mengangkut sebagian prajurit Siliwangi yang melaksanakan hijrah ke Jawa Tengah.
          Dalam masa hijrah ini Siliwangi dihadapkan lagi pada satu ujian berat, karena di saat RI tengah menghadapi ancaman dari Belanda, tiba-tiba PKI Muso di Madiun pada tanggal 18 September 1948 melakukan pemberontakan terhadap pemerintah RI. Kali ini sejarah mengukir bagaimana Siliwangi berhasil menumpas pemberontakan PKI Muso dalam kondisi yang minim untuk suatu operasi yang sangat penting.

Long March Siliwangi

          Belum lagi putra-putra Siliwangi melepaskan lelahnya setelah melaksanakan operasi penumpasan terhadap PKI Muso, tiba-tiba saja pihak Belanda melancarkan agresi militer ke II terhadap Ibu Kota RI Yogyakarta. Pihak Belanda mengatakan kepada komisi jasa PBB, bahkan pihaknya mulai tanggal 19 Desember 1948 pukul 00.00 waktu Jakarta tidak lagi merasa terikat oleh perjanjian Renville yang sebenarnya telah begitu menguntungkan pihaknya. Pada tanggal 19 Desember 1948 sekitar pukul 05.30 Lapangan terbang Maguwo dibom oleh pesawat-pesawat pembom Mitchel B-25 yang di ikuti penerjunan satu Batalyon pasukan baret Hijau yang ditugaskan untuk merebut lapangan terbang tersebut.



          Belanda mengerahkan sejumlah kurang lebih 135.600 orang tentara dengan perlengkapan modern berasal dari bantuan "Marshal Plan" Amerika Serikat.
          Tujuan agresi Belanda ke II itu adalah untuk menghancurkan segala potensi Republik atau melumpuhkannya.
          Untuk menghadapi taktik licik Belanda tersebut Panglima Besar Jenderal Sudirman mengeluarkan Instruksi Panglima Besar No. 1 sesuai perintah (Perintah Siasat No. 1) ter-sebut pasukan Siliwangi segera bergerak dari kedudukannya masing-masing, melaksanakan gerakan militer yang kemudian dikenal dengan nama "Long March Siliwangi ". (perjalanan Siliwangi dari Jawa Tengah kembali ke Jawa Barat).

          Dengan adanya perintah untuk bergerak kembali ke kampung halamannya yang sudah sekian lama di tinggalkan dan dirindukan maka disambut dengan penuh kegembiraan diselingi dengan rasa keharuan yang sangat mendalam sekali. Maka pada tahun 1948 bergeraklah si Anak Rantau Siliwangi ke tempat asalnya, menuju kampung halamannya.
          Rencana Long March Siliwangi telah disusun rapih dan sudah disalurkan berupa perintah hingga tingkat Batalyon dan disusun sebagai berikut :
1.          Brigade Sadikin menuju Jawa Barat sebelah utara.
2.          Brigade Syamsu menuju daerah Tasikmalaya, Garut dan Ciamis.
3.          Brigade Kusno Utomo menuju daerah Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor.
4.          Batalyon Ahmad Wiranatakusumah bertugas sebagai pengawal staf divisi Siliwangi dan berangkat paling akhir.
 Namun karena keadaan medan Jawa Barat tidak mengijinkan akibat adanya pengacauan oleh apa yang menamakan dirinya Darul Islam Kartosuwiryo maka tujuan yang telah ditetapkan itu tak dapat dipertahankan.           Akibatnya Batalyon Sitorus kembali ke daerah Garut, Batalyon Ahmad Wiranatakusumah di Bandung Selatan, Batalyon Kemal Idris di daerah kabupaten Cianjur.

          Batalyon A.Kosasih ke daerah Sukabumi dan Bogor, Batalyon Rukman ke daerah Cirebon dan Kuningan, Batalyon Dharsono ke daerah Karawang, Batalyon Lucas ke daerah Cikampek, Batalyon Sudarman ke daerah Tasikmalaya Utara, Batalyon Nasuhi ke daerah Ciamis dan Batalyon Riva'i ke daerah Majalaya hingga perbatasan Garut. Pada umumnya Batalyon-Batalyon Siliwangi itu kembali ke daerah-daerah gerilya mereka sebelum hijrah.

          Dalam perjalanan pulang kembali ke kampung halamannya di Jawa Barat pasukan Siliwangi mendapatkan hambatan dari DI/TII Kartosuwiryo. Di Priangan Timur banyak prajurit Siliwangi yang jatuh dalam jebakan-jebakan pasukan DI/TII yang diracun dan disergap, untuk ditawan atau dibunuh setelah melalui penganiayaan yang tiada berperikemanusiaan.
sumber: http://www.kodam-slw.mil.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar